Selasa, 21 Juni 2016

Semarak Ramadan WP 1437 H: Yang Berbagi Yang Dirindukan Surga



Salam, Wipers, tahukah kamu golongan manusia yang dirindukan surga? Iya, luar biasa, surga yang merindu, bukan kita. Baginda Rasulullah SAW mengatakan, surga rindu kepada 4 macam golongan manusia. Siapa sajakah itu? 

Ironis, Muslim tapi tidak bisa Baca Qur’an   


Pertama, mereka yang mau berbagi. Orang yang memiliki kepekaan sosial tinggi, dengan niat baik,  berbagi kepada sesama. 


“Yang dirindukan surga adalah orang yang mau berbagi. Seperti sore hari ini kakak-kakak mahasiswa kita memiliki kepekaan sosial yang tinggi, mau berbagi. Dengan niat baik, di bulan Ramadhan ramai-ramai berkunjung, mau berbagi kepada adik-adik yatim dan piatu. Ini merupakan salahsatu yang insya Allah kita adalah orang-orang yang dirindukan surga,” ujar Ustad Yusuf saat memberikan tausiyah menjelang Buka Puasa bersama Panti Asuhan Yatim Piatu Tajdidul Iman, Jakarta [18/6/16].  
Berbagi bukan berarti sekadar menghilangkan lapar dan dahaga saja, lanjut Ustad Yusuf, tapi mau berbagi dengan hal-hal yang positif juga merupakan orang-orang yang dirindukan surga Allah SWT.

Kemudian siapa lagi yang dirindukan surga? Orang yang gemar membaca dan mengamalkan kandungan Al Qur’an. Pada 17 Ramadhan, Allah SWT turunkan Al Qur’anul karim yang dikenal sebagai peristiwa nuzulul quran. Yaitu, saat Rasulullah bertemu Malaikat Jibril as yang diutus Allah untuk menyampaikan wahyu yang pertama. 


Peristiwa monumental tersebut menandakan betapa Al Qur'an merupakan  satu-satunya panduan, peta jalan, dan petunjuk bagi umat muslim. Namun Ustad Yusuf menyayangkan masih banyak umat Islam yang tidak rajin membaca Al Qur'an, bahkan ada yang tidak dan belum bisa membaca Al Quran.

“Kita lihat sekarang betapa banyak manusia yang sama sekali tidak bisa baca Al Quran padahal kalau ditanya apa agamamu dia menyatakan islam. Bahkan sering ada orang yang mengucapkan ijab kabul, ketika mau menikah, disuruh mengucap dua kalimat syahadat, sampai dia tak bisa berucap. Ini sungguh ironis, orang mengaku beragama Islam tapi tidak mengenal sedikit pun huruf  Al Qur’an. Karena dari dulu tidak ada niat dan keinginan untuk bisa membaca al Quranul Karim. sehingga begitu dewasa, ia menyesal,” jelasnya.

Golongan berikutnya adalah mereka yang bisa menjaga lisan dari omongan yang tidak baik, khususnya selama bulan suci ramadhan Maka Rasulullah mengingatkan; berapa banyak orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, namun ia tidak memperoleh apapun kecuali lapar dan haus.


Golongan keempat, adalah orang-orang yang mau melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Karena panggilan untuknya begitu mahal. Allah memanggil dengan sebutan: hai orang-orang yang beriman.

“Panggilan ini begitu mahal. Allah memangil orang berpuasa dengan kata-kata hai orang-orang beriman. Karena orang-orang yang berimanlah yang mengerti dan mau melaksanakan perintah Allah,” pungkasnya. 



Sambang, Silaturahim, dan Simak

Kegiatan buka puasa bersama dan memberikan santunan kepada anak yatim dan piatu ini merupakan tradisi yang dilestarikan para mahasiswa  sebagai wujud rasa syukur kembali dapat mereguk nikmat Ramadhan, selain sebagai ajang mempererat silaturahim di antara mahasiswa, dengan bersama mengisi kegiatan yang bermanfaat guna menambah kekhusyu'an ibadah di bulan suci Ramadhan.  

Berbeda dari kegiatan tahun lalu , alih-alih mengundang adik-adik kita untuk datang, kali ini kawan-kawan bersepakat  menyambangi mereka. Alangkah elok jika kita yang mendatangi, berinteraksi, menyimak curahan hati, dan berbaur bersama segenap pengurus, adik-adik, juga masyarakat sekitar Yayasan Yatim Piatu Tajdidul Iman. 



Awalnya terlihat sulit hingga kita menjalankannya. Karena keraguan harus dijawab, dan amanah harus disampaikan. Jerih upaya yang disambut senyum bahagia dan jabat erat sudah lebih dari cukup. Hanya ridha Allah yang kita harapkan. And nothing else matters.


Terima kasih Tim Panitia. Terima kasih untuk para pendukung dan partisipan. Terima kasih kawan semua. Keberkahan untuk kita semua. Mohon maaf atas segala kelebihan dan kekurangan. Proses mendewasakan kita di semesta yang bekerja dengan uniknya. Mari terus berproses. Tabik.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar